
Jakarta – Jika ayam, sapi, atau ikan menjadi sumber protein yang paling umum dikonsumsi di Indonesia, sejumlah negara justru memiliki tradisi menyantap daging dari hewan-hewan yang tergolong tidak biasa. Mulai dari kanguru, buaya, hingga beruang hitam, semuanya menjadi bagian dari kuliner khas di wilayah tertentu.
Keberadaan daging eksotis ini umumnya berkaitan dengan budaya, kondisi geografis, serta tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Masing-masing memiliki karakter rasa, tekstur, dan teknik pengolahan yang berbeda sesuai kebiasaan masyarakat setempat.
Meski menarik untuk dikenali, konsumsi beberapa jenis daging liar juga memerlukan perhatian khusus. Jika tidak diproses secara higienis dan dimasak hingga matang, sebagian di antaranya berpotensi membawa parasit maupun penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Dirangkum dari Taste Atlas, berikut tujuh jenis daging eksotis yang masih dikonsumsi di berbagai negara.
1. Daging Landak
Di beberapa negara Asia dan Afrika, seperti Vietnam dan Ghana, daging landak masih dikonsumsi sebagai hidangan tradisional. Teksturnya disebut menyerupai daging babi dengan rasa yang gurih.
Namun, daging landak termasuk kategori yang memiliki potensi membawa penyakit zoonosis. Karena itu, proses penanganan dan pemasakan harus dilakukan dengan benar agar aman dikonsumsi.
2. Daging Buaya
Buaya menjadi salah satu sumber protein yang cukup dikenal di Australia, Thailand, serta beberapa negara Afrika. Rasanya sering digambarkan sebagai perpaduan antara ayam dan ikan dengan tekstur yang lebih kenyal.
Selain tinggi protein dan rendah lemak, daging buaya juga memerlukan pengolahan yang tepat karena berpotensi membawa penyakit zoonosis apabila tidak dimasak hingga matang.
3. Daging Iguana
Masyarakat di kawasan Karibia, Amerika Tengah, dan sebagian Amerika Selatan telah lama mengolah iguana sebagai bahan makanan. Daging reptil ini bahkan dijuluki sebagai “ayam dari pepohonan” karena teksturnya yang lembut.
Meski populer di beberapa daerah, iguana liar tetap memiliki risiko membawa penyakit sehingga harus dimasak secara sempurna sebelum dikonsumsi.
4. Daging Zebra
Di wilayah tertentu di Afrika Selatan, zebra juga dikonsumsi meski jumlahnya terbatas. Dagingnya dikenal rendah lemak dengan cita rasa yang sedikit manis.
Jenis daging ini lebih berisiko mengandung parasit dibanding penyakit zoonosis. Oleh sebab itu, kebersihan selama penyembelihan dan pengolahan menjadi faktor penting sebelum disajikan.
5. Daging Kanguru
Australia merupakan negara yang paling identik dengan konsumsi daging kanguru. Daging ini dikenal tinggi protein, rendah lemak, serta mengandung zat besi yang cukup tinggi sehingga kerap dijadikan alternatif daging merah.
Meski memiliki nilai gizi yang baik, daging kanguru tetap harus diproses secara higienis karena berpotensi mengandung parasit apabila penanganannya kurang tepat.
6. Daging Ular Derik
Di beberapa wilayah Amerika Serikat dan Meksiko, ular derik diolah menjadi berbagai hidangan tradisional. Rasanya sering dibandingkan dengan ayam atau daging katak.
Karena berasal dari satwa liar, daging ular derik berpotensi membawa penyakit zoonosis sehingga wajib dimasak hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
7. Daging Beruang Hitam
Melalui perburuan legal di beberapa wilayah Kanada, Amerika Serikat, dan Rusia, daging beruang hitam masih dikonsumsi oleh sebagian masyarakat.
Menurut sejumlah referensi, daging beruang hitam memiliki risiko mengandung parasit. Oleh karena itu, proses memasak dengan suhu tinggi menjadi langkah penting untuk membantu mengurangi risiko kesehatan sebelum dikonsumsi.
