
PRESIDEN Iran Masoud Pezeshkian menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dari langkah-langkah yang dapat memperburuk situasi di Timur Tengah. Seruan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dan aksi saling membalas serangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang mengancam stabilitas kawasan.
Menurut Pezeshkian, saat ini terdapat tren di mana Amerika Serikat dan Israel mencoba mengganggu proses stabilisasi di Timur Tengah. Ia menekankan pentingnya upaya diplomatik untuk memperkuat gencatan senjata dan mencegah krisis meluas lebih jauh.
“Adalah wajar untuk mengharapkan bahwa pihak-pihak lain juga mematuhi komitmen mereka dan menahan diri dari posisi atau tindakan yang akan merusak kepercayaan dan menyulitkan proses diplomatik,” ujar Pezeshkian dalam pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, sebagaimana dirilis kantor presiden Iran, Sabtu (11/7).
Situasi keamanan memburuk setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke wilayah Iran pada Rabu malam. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengeklaim bahwa tindakan tersebut merupakan balasan atas tindakan Iran terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Merespons serangan tersebut, pasukan Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer milik Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Pihak Teheran menuding Washington telah melanggar nota kesepahaman (MoU) terkait penghentian permusuhan yang sebelumnya telah disepakati.
Gencatan Senjata Berakhir
Ketegangan ini mencapai titik kritis setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan resmi terkait status hubungan kedua negara. Trump menegaskan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kini dianggap tidak lagi berlaku.
Kondisi ini memicu kekhawatiran internasional akan terjadinya konflik terbuka yang lebih besar. Pezeshkian terus mendorong jalur komunikasi diplomatik dengan pemimpin regional, termasuk Pakistan, guna mencari jalan keluar dari kebuntuan militer yang sedang terjadi saat ini.
Situasi di Timur Tengah masih terus berkembang. Pihak berwenang dari berbagai negara terus memantau pergerakan militer di Selat Hormuz dan pangkalan-pangkalan strategis di Teluk.
