
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut mata uang dolar AS akan menguat pada perdagangan sepekan ke depan. Ia memproyeksikan indeks dolar sepekan ke depan berada di level support 99,90 dan resistance 102,30. Penguatan indeks dolar ini akan berdampak pada nilai tukar rupiah. Ibrahim mengatakan ada indikasi rupiah masih akan terus melemah pada pekan depan.
“Rupiah dalam sepekan ke depan itu ditransaksikan kemungkinan di Rp17.870 sampai Rp18.300-an (per dolar AS),” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (12/7).
Pelemahan rupiah pun akan dampaknya terhadap harga logam mulia. Ibrahim memproyeksikan logam mulia kemungkinan ditransasikan di level support Rp2.570.000 per gram. Kemudian resistennya di Rp2.800.000 per gram. “Jadi penguatan harga logam mulia disebabkan oleh melemahnya mata uang rupiah,” jelasnya.
Sementara untuk harga emas dunia dalam sepekan ke depan, katanya, kemungkinan ditransasikan di level support US$3.906 per troy ons. Kemudian resisten tertingginya di US$4.348 per troy ons.
Adapun untuk harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dalam sepekan kemungkinan diperdagangkan di level support US$62,30 per barel. Kemudian resistennya di level US$82,20 per barel. Ibrahim memaparkan sejumlah faktor yang mempengaruhi fluktuasi indeks dolar, rupiah, WTI crude oil, emas dunia, dan logam mulia.
Yang pertama adalah faktor geopolitik. Amerika melakukan penyerangan terhadap target-target Iran pada saat libur nasional pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Kemudian Iran pun melakukan penyerangan hingga pada Minggu pagi ini, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memberikan pernyataan resmi bahwa Selat Hormuz ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.
“Nah, ini akan berpengaruh terhadap transportasi minyak di hari Senin (besok),” ujar Ibrahim.
Kemudian faktor kebijakan Bank Sentral Amerika. Dalam hal ini, katanya, Bank Sentral Amerika berjanji untuk memberikan stabilitas harga dan siap untuk bertindak tegas untuk menekan ekspektasi inflasi jangka panjang.
“Artinya apa? Dengan adanya penutupan Selat Hormuz, yang tadinya harga minyak melandai, kemungkinan besar harga minyak naik, berarti ada kemungkinan besar Bank Sentral Amerika akan tetap menaikkan suku bunga,” jelasnya.
