
TIM Nasional Spanyol tidak sekadar menyegel tiket ke 16 besar Piala Dunia 2026. La Roja melenggang dengan penuh gaya usai menghempaskan Austria dengan skor telak 3-0 di SoFi Stadium, Jumat (3/7). Namun, di balik gemuruh 70.000 pasang mata yang memadati stadion, panggung utama malam itu mutlak milik dua wonderkid Barcelona: Lamine Yamal dan Pau Cubarsi.
Dua remaja ini sukses mendobrak keterbatasan usia sekaligus mencatatkan nama mereka di buku sejarah sepak bola dunia. Yamal dan Cubarsi resmi menjadi pasangan remaja pertama yang turun sebagai starter di fase gugur Piala Dunia sejak duet legendaris Brasil, Pelé dan José Altafini, pada edisi 1958 silam.
Yamal, yang baru berusia 18 tahun, sebenarnya baru pulih dari cedera hamstring yang membatasi menit bermainnya di fase grup. Namun, ia tampil kesetanan selama 85 menit hingga dinobatkan sebagai Man of The Match. Lini belakang Austria dibuat kocar-kacir oleh kecepatan dan liukan mautnya. Statistiknya mengerikan: 6 tembakan (4 on target), 2 kreasi peluang, dan 5 kali merebut bola. Malamnya nyaris sempurna andai sepakan kilatnya di menit akhir tidak disapu David Alaba tepat di garis gawang.
“Piala Dunia baru dimulai sekarang!” cetus Yamal dengan penuh percaya diri. “Di fase gugur, kalau kalah berarti pulang. Kami tidak menginginkan itu. Sekarang fisik saya sudah 100 persen, saya mulai berani melakukan tusukan dan dribbling lagi. Kami siap untuk ke Dallas.”
Jika Yamal menjadi motor serangan, maka Pau Cubarsi yang masih berusia 19 tahun menjadi tembok pertahanan di lini belakang.Tampil tenang layaknya bek veteran, ketangguhan Cubarsi memimpin benteng pertahanan sukses membantu kiper Unai Simón menjaga gawang Spanyol clean sheet dalam empat laga beruntun.
Hancurnya Kutukan 16 Tahun
Urusan membobol gawang lawan menjadi panggung bagi Mikel Oyarzabal. Striker Real Sociedad ini menjadi bintang lapangan lewat torehan dua gol, sementara satu gol lainnya disumbangkan oleh bek sayap Pedro Porro.
Kemenangan ini menjadi pembuktian bahwa kutukan fase gugur Spanyol telah sirna. Ini adalah kemenangan pertama mereka di babak sistem gugur Piala Dunia sejak malam final legendaris melawan Belanda tahun 2010 silam, menghapus memori kelam edisi 2014, 2018, dan 2022.
Performa tanpa celah ini membuat pelatih Austria, Ralf Rangnick, tak ragu menjagokan Spanyol untuk mengangkat trofi emas.
“Saya tidak ingat kapan mereka melakukan kesalahan sendiri. Hari ini Spanyol menyuguhkan performa terbaiknya. Saya berani bilang, kami tidak hanya bermain melawan juara Eropa, tetapi mungkin calon juara dunia berikutnya,” puji mantan manajer Manchester United tersebut.
Meskipun mendapat pujian setinggi langit, pelatih Spanyol Luis de la Fuente justru belum puas atas performa anak asuhnya. Ia menegaskan bahwa La Roja belum mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
“Tim ini belum mencapai batas kemampuannya. Jika Anda pikir ini adalah penampilan terbaik kami, Anda salah. Semangat kami adalah terus berkembang, dan kami belum puas,” tegas De la Fuente.
Spanyol kini akan terbang ke Dallas untuk menantang pemenang antara Portugal vs Kroasia di babak 16 besar pada Selasa
