
Jakarta – Secangkir kopi ternyata tidak hanya dikaitkan dengan rasa lebih segar dan energi yang meningkat. Sebuah penelitian menemukan adanya hubungan antara konsumsi kopi dalam jumlah tertentu dengan proses penuaan biologis yang lebih lambat.
Penuaan biologis berbeda dengan usia berdasarkan tanggal lahir. Istilah ini menggambarkan kondisi sel dan organ tubuh yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, pola makan, gaya hidup hingga lingkungan.
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal BMJ Mental Health, para peneliti melihat hubungan konsumsi kopi dengan panjang telomer pada orang dewasa yang mengalami gangguan mental berat.
Dilansir dari NY Post, penelitian tersebut melibatkan sekitar 400 orang dewasa di Norwegia dengan diagnosis skizofrenia, gangguan bipolar, atau depresi mayor. Para peserta kemudian dikelompokkan berdasarkan jumlah kopi yang mereka konsumsi setiap hari.
Konsumsi 3-4 cangkir menunjukkan hasil berbeda
Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok, mulai dari tidak mengonsumsi kopi, minum 1-2 cangkir, 3-4 cangkir, hingga lima cangkir atau lebih dalam sehari.
Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan panjang telomer di antara kelompok tersebut. Peserta yang mengonsumsi sekitar 3-4 cangkir kopi per hari memiliki telomer yang lebih panjang dibandingkan kelompok yang tidak minum kopi.
Telomer merupakan bagian pelindung yang berada di ujung kromosom. Bagian ini membantu menjaga kromosom tetap stabil. Seiring bertambahnya usia, telomer secara alami cenderung memendek sehingga panjangnya kerap digunakan sebagai salah satu indikator dalam penelitian mengenai penuaan biologis.
Dalam studi tersebut, panjang telomer pada kelompok yang minum 3-4 cangkir kopi disebut berkaitan dengan perbedaan usia biologis sekitar lima tahun dibandingkan kelompok yang tidak mengonsumsi kopi.
Namun, hasil tersebut tidak ditemukan pada mereka yang mengonsumsi lebih dari lima cangkir kopi sehari.
Bagaimana kopi dikaitkan dengan penuaan?
Para peneliti menduga kandungan senyawa bioaktif dalam kopi berperan dalam temuan tersebut. Kopi mengandung berbagai senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.
Salah satu mekanisme yang diperhatikan adalah stres oksidatif. Kondisi ini terjadi ketika jumlah radikal bebas di dalam tubuh tidak seimbang dengan kemampuan antioksidan untuk menetralisirnya.
Stres oksidatif yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan pada sel dan DNA. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan perubahan pada telomer.
Hubungan ini menjadi perhatian khusus karena pemendekan telomer lebih sering ditemukan pada orang dengan gangguan mental berat, termasuk skizofrenia dan gangguan bipolar.
Bukan berarti semakin banyak kopi semakin awet muda
Meski hasil penelitian menunjukkan hubungan menarik antara konsumsi kopi dan panjang telomer, bukan berarti semakin banyak kopi yang diminum akan semakin lambat proses penuaan.
Justru, kelompok yang mengonsumsi lebih dari lima cangkir kopi per hari tidak menunjukkan manfaat tambahan terhadap usia biologis dalam penelitian tersebut.
Peneliti juga mengingatkan bahwa konsumsi kafein berlebihan dapat memberikan dampak sebaliknya. Asupan yang terlalu tinggi berpotensi meningkatkan pembentukan spesies oksigen reaktif yang dapat memicu stres oksidatif dan kerusakan sel.
Karena itu, konsumsi kopi tetap perlu disesuaikan dengan batas asupan kafein yang dianjurkan. Untuk orang dewasa sehat, sekitar 400 miligram kafein per hari atau setara kurang lebih 2-4 cangkir kopi umumnya dianggap sebagai batas konsumsi harian.
Waktu minum juga perlu diperhatikan. Mengonsumsi kopi terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengganggu kualitas tidur pada sebagian orang.
Temuan ini memang menarik, tetapi penelitian tersebut menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa kopi secara langsung dapat membuat seseorang menjadi lebih muda. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui mekanisme serta apakah hasil serupa berlaku pada populasi yang lebih luas.
