
Jakarta – Media sosial belakangan diramaikan dengan unggahan seorang mantan petugas quality control (QC) pabrik sosis di Threads yang mengulas proses pembuatan produk tersebut. Unggahan itu memicu rasa penasaran banyak orang mengenai keamanan daging olahan jika dikonsumsi secara rutin.
Dalam unggahan yang viral, disebutkan bahwa sebagian sosis diproduksi menggunakan mechanically recovered meat (MRM), yaitu sisa daging yang dipisahkan kembali dari tulang menggunakan mesin. Bahan tersebut kemudian diolah menjadi adonan dengan tambahan fosfat dan tepung untuk menghasilkan tekstur yang kenyal.
Agar tampil lebih menarik, produsen juga menambahkan natrium nitrit yang membuat warna sosis tampak merah muda dan lebih segar. Unggahan itu juga menyinggung penggunaan perisa untuk membantu memperbaiki cita rasa bahan baku yang kualitasnya telah menurun.
Lantas, apakah daging olahan memang berbahaya? Mengutip Healthline, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi daging olahan secara berlebihan memang berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa masalah kesehatan. Berikut penjelasannya.
1. Apa yang Dimaksud Daging Olahan?
Daging olahan merupakan daging yang telah melalui proses pengawetan, seperti pengasapan, penggaraman, fermentasi, pengeringan, atau pengalengan. Tujuannya adalah memperpanjang masa simpan sekaligus meningkatkan rasa.
Contoh produk daging olahan antara lain sosis, ham, bacon, kornet, salami, dan daging asap. Berbeda dengan daging segar, produk ini umumnya mengandung berbagai bahan tambahan, termasuk pengawet dan penambah cita rasa.
2. Sering Dikaitkan dengan Pola Makan Kurang Sehat
Berbagai studi menemukan bahwa orang yang mengonsumsi daging olahan dalam jumlah tinggi juga cenderung memiliki gaya hidup yang kurang sehat, misalnya merokok, kurang berolahraga, serta jarang mengonsumsi buah dan sayuran.
Meski faktor-faktor tersebut telah diperhitungkan dalam banyak penelitian, hubungan antara konsumsi daging olahan dan meningkatnya risiko penyakit tetap terlihat cukup konsisten.
3. Berkaitan dengan Risiko Penyakit Kronis
Sejumlah penelitian observasional mengaitkan konsumsi daging olahan yang tinggi dengan peningkatan risiko penyakit kronis, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga kanker, terutama kanker kolorektal.
Walaupun penelitian tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, para ahli tetap menyarankan agar konsumsi daging olahan tidak dilakukan secara berlebihan.
4. Mengandung Nitrit yang Dapat Membentuk Nitrosamin
Natrium nitrit lazim digunakan sebagai pengawet pada sosis dan produk sejenis. Selain mempertahankan warna, bahan ini juga membantu menghambat pertumbuhan bakteri.
Namun, saat dipanaskan pada suhu tinggi, nitrit dapat berubah menjadi senyawa N-nitroso, termasuk nitrosamin, yang dalam berbagai penelitian dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker.
5. Proses Pengasapan Dapat Menghasilkan PAHs
Produk daging asap berpotensi mengandung polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), yaitu senyawa yang muncul akibat pembakaran kayu, arang, atau bahan organik lainnya selama proses pengasapan.
PAHs kemudian menempel pada permukaan daging dan dalam penelitian pada hewan diketahui memiliki sifat karsinogenik. Karena itu, konsumsi makanan hasil pengasapan juga sebaiknya tidak berlebihan.
6. Memasak pada Suhu Tinggi Membentuk HCAs
Saat daging dimasak hingga gosong melalui proses menggoreng, memanggang, atau membakar, dapat terbentuk senyawa heterocyclic amines (HCAs).
Beberapa penelitian menunjukkan HCAs berpotensi meningkatkan risiko kanker. Mengingat sosis sering dimasak kembali sebelum disantap, metode memasaknya juga patut diperhatikan agar tidak terlalu matang atau hangus.
7. Tinggi Kandungan Garam
Sebagian besar produk daging olahan mengandung natrium dalam jumlah cukup tinggi. Garam berfungsi sebagai pengawet sekaligus memperkuat cita rasa.
Apabila dikonsumsi berlebihan, asupan garam dapat meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung, hingga kanker lambung. Oleh sebab itu, penting untuk tetap memperhatikan total konsumsi natrium setiap hari.
8. Boleh Dikonsumsi, tetapi Jangan Berlebihan
Daging olahan bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Sesekali mengonsumsi sosis, ham, atau produk sejenis masih diperbolehkan sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.
Yang terpenting adalah tidak menjadikannya sebagai menu harian. Perbanyak konsumsi makanan segar, seperti sayur, buah, kacang-kacangan, dan sumber protein alami agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi sekaligus membantu menurunkan risiko berbagai penyakit kronis dalam jangka panjang.
