
Jakarta – Menurunkan berat badan tidak selalu harus dilakukan dengan menghapus berbagai jenis makanan dari menu harian. Dr. Spencer Nadolsky, ahli obesitas asal Amerika Serikat, justru menerapkan pendekatan yang lebih fleksibel kepada pasiennya.
Dikutip dari DailyMailUK, dokter yang juga mendirikan klinik kesehatan virtual Vineyard tersebut mengatakan dirinya tidak menetapkan daftar makanan yang sama sekali dilarang selama pasien menjalani program penurunan berat badan.
“Tidak ada makanan yang saya larang untuk fat loss atau penurunan berat badan,” kata Dr. Nadolsky.
Menurutnya, fokus utama sebaiknya diarahkan pada kualitas makanan secara keseluruhan, bukan sekadar menghindari makanan tertentu.
Utamakan Makanan Padat Nutrisi
Walaupun tidak menerapkan larangan makanan secara ketat, Dr. Nadolsky tetap mendorong pasien untuk lebih sering mengonsumsi makanan utuh dan kaya nutrisi.
Protein tanpa lemak, sayuran, serta buah-buahan menjadi beberapa pilihan yang ia prioritaskan. Makanan tersebut dinilai dapat membantu seseorang mendapatkan rasa kenyang dengan asupan kalori yang relatif lebih rendah.
” Saya berusaha menekankan diet berbasis makanan utuh dan padat nutrisi seperti protein tanpa lemak, sayuran, serta buah-buahan. Jenis makanan ini membantu membuat orang kenyang dengan kalori yang lebih sedikit,” jelasnya.
Dengan mengutamakan makanan bernutrisi, seseorang tetap dapat menikmati makanan lain dalam jumlah yang sesuai tanpa merasa harus menjalani diet yang sangat ketat.
Defisit Kalori Tetap Menjadi Dasar
Pendekatan fleksibel bukan berarti jumlah makanan yang dikonsumsi tidak perlu diperhatikan. Dr. Nadolsky menegaskan bahwa prinsip dasar penurunan berat badan tetap berkaitan dengan defisit kalori.
Defisit kalori terjadi ketika energi yang digunakan tubuh lebih besar daripada jumlah kalori yang masuk melalui makanan dan minuman.
Karena itu, seseorang tetap perlu memperhatikan keseimbangan asupan dan aktivitas. Bedanya, metode tersebut tidak harus dilakukan dengan melarang makanan tertentu secara total.
Mengapa Pantangan Ketat Bisa Menjadi Masalah?
Menurut Dr. Nadolsky, terlalu banyak aturan dalam diet justru dapat membuat makanan yang dilarang semakin menarik.
“Saya tidak suka membatasi atau mengatur pasien dalam memilih makanan, karena sering kali hal itu justru membuat mereka semakin menginginkannya,” tuturnya.
Ia memilih memberikan ruang bagi pasien untuk menikmati beragam makanan sambil tetap mengarahkan mereka agar sebagian besar pilihan hariannya berasal dari makanan sehat dan bergizi.
“Saya memberikan izin bagi pasien untuk menikmati semua jenis makanan, sambil tetap berfokus pada makanan sehat dan bergizi,” lanjutnya.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa pembatasan makanan secara ekstrem dapat meningkatkan risiko makan berlebihan dan pola makan yang kurang sehat pada sebagian orang.
Pola Makan Mediterania Bisa Jadi Contoh
Pola diet fleksibel seperti yang diterapkan Dr. Nadolsky juga memiliki kemiripan dengan prinsip pola makan Mediterania yang banyak direkomendasikan dalam konteks kesehatan.
Pola makan ini menekankan konsumsi bahan makanan seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian, serta sumber lemak sehat, termasuk minyak zaitun. Protein juga tetap menjadi bagian dari menu dengan pemilihan sumber yang lebih sehat.
Salah satu penelitian dari Harvard University yang melibatkan sekitar 5.000 peserta menemukan bahwa pola makan Mediterania yang disertai olahraga dan pembatasan kalori berkaitan dengan penurunan risiko diabetes sebesar 31%. Peserta dalam penelitian tersebut juga mengalami penurunan berat badan rata-rata sekitar 3,1 kilogram.
Diet Sehat Tidak Harus Menyiksa
Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan diet tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak makanan yang mampu dihindari. Konsistensi dalam menjaga pola makan, mengontrol asupan kalori, memilih makanan bergizi, serta tetap aktif secara fisik juga memiliki peran penting.
Dengan tidak membuat daftar pantangan yang terlalu panjang, seseorang berpotensi lebih mudah mempertahankan pola makan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, tujuan diet bukan hanya mencapai angka tertentu di timbangan, tetapi membangun kebiasaan makan yang sehat dan realistis sehingga dapat dipertahankan tanpa tekanan berlebihan.
